Meta Gaet Peneliti OpenAI, OpenAI Tetap Teguh Jaga Tim Inti
Dalam persaingan ketat industri kecerdasan buatan (AI), Meta mengambil langkah berani dengan merekrut sejumlah peneliti dari OpenAI. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Meta untuk memperkuat posisi mereka dalam pengembangan AI, khususnya demi mewujudkan visi metaverse. Namun, OpenAI tak tinggal diam menyikapi manuver agresif Meta tersebut. Meski beberapa penelitinya hijrah, CEO OpenAI, Sam Altman, menegaskan bahwa mereka tetap memiliki tim inti yang solid dan berdedikasi tinggi.
Shengjia Zhao, Jiahui Yu, Shuchao Bi, dan Hongyu Ren merupakan empat nama terbaru yang hengkang dari OpenAI ke Meta, menurut laporan The Information pada akhir Juni 2025. Sebelumnya, Meta juga telah menarik Trapit Bansal dan tiga peneliti lainnya, total delapan peneliti dalam beberapa bulan terakhir. Meski kehilangan sejumlah talenta, Altman menekankan bahwa “orang-orang terbaik” tetap memilih bertahan di OpenAI. Ia juga menyindir bahwa tawaran Meta, yang kabarnya mencapai bonus 100 juta dolar AS, bukanlah faktor penentu utama dalam mempertahankan dedikasi tim mereka.
OpenAI menunjukkan sikap percaya diri dengan tetap fokus pada misi utamanya: mengembangkan AI yang aman, etis, dan bermanfaat untuk semua. Alih-alih terjebak dalam perebutan jumlah SDM, OpenAI lebih memilih mempertahankan kualitas tim dan budaya riset yang kuat. CTO Meta, Andrew Bosworth, membantah bahwa tawaran mereka hanya soal nominal besar. Menurutnya, insentif yang diberikan Meta bersifat jangka panjang dan menyeluruh. Namun, dari sudut pandang OpenAI, loyalitas dan komitmen terhadap visi bersama adalah hal yang jauh lebih penting.
Persaingan AI saat ini tidak hanya berlangsung pada level produk dan teknologi, melainkan juga dalam hal mempertahankan dan membentuk tim riset unggulan. Meta, OpenAI, Google, dan Microsoft berlomba bukan hanya soal kecanggihan model AI, tapi juga dalam membangun budaya kerja dan nilai yang diyakini. Dengan tetap teguh menjaga integritas dan soliditas timnya, OpenAI ingin menunjukkan bahwa masa depan AI tak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat merekrut, melainkan oleh siapa yang paling konsisten memelihara semangat inovasi, etika, dan kolaborasi.
Meski ditinggal beberapa penelitinya, OpenAI menunjukkan ketenangan dan keyakinan tinggi terhadap arah pengembangan mereka. Situasi ini menjadi cerminan bahwa keberhasilan AI di masa depan tidak semata-mata bergantung pada kekuatan finansial atau nama besar, melainkan pada bagaimana perusahaan membina dan mempertahankan nilai, talenta, dan tujuan jangka panjang mereka.