Pembinaan dan Dukungan Pendanaan P2MW: Upaya Fakultas dan Prodi Sistem Informasi UNESA Mendorong Inovasi Mahasiswa
Surabaya – Pembinaan kewirausahaan di tingkat fakultas menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk jiwa inovatif mahasiswa Sistem Informasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Melalui program terstruktur mulai dari pelatihan dasar, penyusunan proposal, hingga pendampingan teknis, fakultas berupaya menyiapkan mahasiswa menghadapi kompetisi pendanaan nasional seperti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Menurut Bapak Cendra Devayana Putra, S.Kom., M.IM, selaku dosen pembimbing pembinaan fakultas, program ini bukan sekadar tahap administratif, melainkan proses pembentukan pola pikir kewirausahaan sejak dini.
“Program ini terbuka bagi mahasiswa yang benar-benar ingin berbisnis dan berinovasi. Mahasiswa bisa menang kalau di training dengan benar. Kami siapkan semuanya supaya mereka tahu standar dan apa yang harus dipenuhi,” ujarnya.
Pada tahun ini, sekitar 30 mahasiswa mengikuti rangkaian pembinaan intensif yang mencakup penyusunan proposal, pembuatan portofolio, hingga persiapan coding dan presentasi produk. Dukungan penuh juga datang dari Kaprodi Sistem Informasi, Dr. I Kadek Dwi Nuryana, S.T., M.Kom, yang menyediakan fasilitas, pendanaan awal, serta pendampingan administratif. “Alhamdulillah, dari pihak prodi sangat suportif dan loyal terhadap mahasiswa,” tambah Bapak Cendra.
Dari proses panjang tersebut, lahirlah salah satu tim unggulan yang berhasil menembus pendanaan nasional P2MW dengan inovasi GrowEase, sebuah gardening kit berbasis teknologi Internet of Things (IoT). Tim ini beranggotakan Rosi Mustika Sari, Muchammad Abdulloh ‘Ubaid, Farizna Inayati Ikhsan, Muhammad Bagus Eka Satria, dan Kaka Fajri Riramsyah, di bawah bimbingan Bapak Mohammad Wildan Habibi, S.Pd., M.Pd.
Perjalanan tim GrowEase bermula dari tugas akhir Mata Kuliah Wirausaha, yang mewajibkan mahasiswa menyusun proposal Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Awalnya hanya untuk memenuhi kewajiban akademik, namun ide tersebut berkembang menjadi proyek nyata yang kini memperoleh dukungan nasional.
Dalam implementasinya, tim bekerja sama dengan Kelompok Tani Wanita (KTW) Serpis Surabaya yang berlokasi di Jalan Jemursari. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada komersialisasi produk, tetapi juga melahirkan “Proyek Berdampak” yang relevan dengan kegiatan Mobilitas Akademik mahasiswa semester lima.
Ubaid, selaku penanggung jawab bidang IoT, menjelaskan bahwa pemilihan teknologi Monitoring Kualitas Air Berbasis ESP32 berangkat dari kebutuhan mitra.
“Kita membuat IoT ini karena menyesuaikan kebutuhan dari pihak mitra. Mereka membutuhkan sistem pemantauan pH, suhu, nutrisi air, dan kelembaban ruangan hidroponik. Sensor-sensor ini kami gunakan agar kualitas tanaman tetap terjaga dan proses pemantauan jadi lebih mudah,” jelasnya.
Semua perangkat IoT tersebut dirakit secara mandiri oleh tim. Mereka tidak membeli alat jadi, melainkan menyusun sendiri sistem dari awal: mulai dari menyolder komponen, menghubungkan sensor, memprogram ESP32, hingga melakukan uji akurasi di lokasi mitra. Saat ini, perangkat hardware telah berfungsi dengan baik, sedangkan aplikasi mobile untuk pemantauan real-time masih dalam tahap pengembangan lanjutan.
Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan pihak mitra masyarakat. Melalui riset, uji coba, dan diskusi berulang, tim berhasil membuktikan bahwa inovasi berdampak lahir dari komitmen dan konsistensi yang kuat.
Pencapaian GrowEase menegaskan bahwa teknologi informasi berperan besar dalam modernisasi sektor pertanian, terutama melalui penerapan IoT dalam sistem hidroponik. Inovasi seperti ini membuka peluang baru bagi perkembangan agroteknologi di Indonesia.
Sebagai penutup, Bapak Cendra menyampaikan pesan inspiratif kepada seluruh mahasiswa agar tidak takut mencoba dan berkompetisi.
“Tuhan tidak tidur. Perlombaan itu bukan membuang waktu. Satu ide bisa dikembangkan ke banyak bentuk, dan itu membangun portofolio yang sangat berharga,” tuturnya.
Kisah Rosi, Ubaid, Farizna, Bagus Eka, dan Kaka Fajri menjadi bukti nyata bahwa generasi muda UNESA mampu menghubungkan teknologi dengan kebutuhan masyarakat secara langsung. Dengan semangat kolaborasi lintas disiplin, mereka menunjukkan bahwa masa depan inovasi Indonesia dibangun dari ruang kuliah, tumbuh bersama masyarakat, dan berdampak bagi dunia nyata.