Mahasiswa Sistem Informasi UNESA Raih Pendanaan My Innovillage 2025 dan Masuk 180 Proposal Terbaik
Surabaya – Kompetisi My Inovillage 2025 yang diselenggarakan oleh Telkom Indonesia diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, termasuk dari Program Studi Sistem Informasi UNESA. Pendaftaran dibuka pada 21 Oktober hingga 10 November 2025, memberi peserta waktu sekitar tiga minggu untuk menyiapkan proposal sebelum batas pengumpulan berakhir. Setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat, pengumuman Top 180 dirilis pada 28 November 2025 dan tim dari Sistem Informasi UNESA berhasil masuk sebagai salah satu penerima pendanaan. Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi program studi karena menunjukkan kemampuan inovatif mahasiswa dalam bersaing di tingkat nasional.
Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi UNESA meraih prestasi membanggakan dengan lolos pendanaan kompetisi nasional My Inovillage yang diselenggarakan Telkom Indonesia. Tim “Nasi Goreng Jawa”, beranggotakan Achmad Amirul Mu'minin, Abdur Rahman Jibrin, dan Farhan Putra Pratama, berhasil menembus Top 180 dari total 995 proposal dengan bimbingan dosen Monica Cinthya, S.T., M.Kom. Inovasi yang mereka angkat berfokus pada isu disabilitas, khususnya penyandang tuna netra di YPAB Surabaya, yang dipilih karena menyediakan permasalahan nyata yang dapat dikembangkan menjadi solusi konkret. Proses penyusunan proposal dilakukan secara intens melalui diskusi rutin, pembagian tugas, serta pemanfaatan berbagai sumber belajar, termasuk platform digital dan teknologi kecerdasan buatan.
Dalam perjalanan kompetisi, tim menemukan bahwa penyandang disabilitas menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan tenaga dan waktu, yang semakin menguatkan motivasi mereka untuk merancang inovasi yang relevan dan berdampak. Meski tenggat waktu hanya dua minggu dan prosesnya cukup menantang, mereka tetap berkomitmen menghasilkan karya terbaik yang bermanfaat. Selain berharap dapat melaju ke Top 50, tim menekankan bahwa tujuan utama mereka adalah menghadirkan inovasi yang memberi dampak positif bagi masyarakat. Pengalaman ini memberikan pembelajaran berharga, mulai dari pendalaman materi teknis hingga penguatan kerja sama tim, menjadikannya jauh lebih bermakna dibanding proyek portofolio pada umumnya.
Bu Monica mengungkapkan rasa bangga ketika mengetahui mahasiswa bimbingannya berhasil lolos pendanaan My Innovillage 2025, terlebih karena mereka menjadi satu-satunya perwakilan dari Prodi Sistem Informasi yang masuk dalam 180 proposal terbaik dari ratusan peserta. Ia menjelaskan bahwa proses pendampingan dimulai ketika tim menghubunginya melalui WhatsApp dengan membawa ide yang sudah matang dan relevan dengan bidang keahliannya, yaitu pattern recognition dan computer vision. Hal ini membuat pendampingan berjalan lebih efektif karena perannya fokus pada penyempurnaan konsep, pengecekan proposal, serta pemberian arahan teknis.
Menurut Bu Monica, tantangan terbesar tim adalah tahap perancangan sistem, terutama karena proyek ini ditujukan bagi penyandang tunanetra sehingga membutuhkan penggalian informasi mendalam mengenai kebutuhan pengguna. Ia juga menyoroti bahwa mahasiswa masih berada di semester awal dan belum mendapatkan mata kuliah peminatan, namun mampu mempelajari teori-teori baru secara mandiri. Keunikan ide mereka terletak pada sistem navigasi dalam ruangan untuk lingkungan sekolah tunanetra. Bu Monica berharap tim dapat melanjutkan prestasi hingga tahap seleksi akhir setelah implementasi, dan ia menekankan pentingnya komitmen mahasiswa untuk rutin berkonsultasi serta menjaga progress mengingat waktu pengerjaan yang terbatas.